Bila kelelahan, aku akan mengingat ini. Tulisan KH Rahmat Abdullah, Sang Murabbi.
Dik, memang seperti inilah dakwah :')
***
Memang seperti itulah dakwah.
Dakwah
adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai fikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu..
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun
tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedut
saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel
di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.. Tubuh yang hancur
lebur dipaksa berlari..
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut
Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban kerana beban
berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul
Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.
Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu
terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang
Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun
ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati
sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh
Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar
yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka
ditikamnya seorang Khalifah yang soleh, yang sedang bermesra-mesraan dengan
Tuhannya saat solat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya
tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang
risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justreu kelelahan. Justeru rasa sakit
itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik,
akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis.
Justeru kerana rasa sakit itu selalu mereka
rasakan, selalu menemani... justeru kerana rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi... akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah
selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa
lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar
dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau
rasa lagi sebagai luka. Hingga hasrat untuk mengeluh tidak lagi terlalu
menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia
histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta
pada Abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan, hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Kerana itu kamu tahu, pejuang yg heboh ria
mempamer-pamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit
dan pengorbanannya juga begitu. Kerana mereka jarang disakiti di jalan Allah.
Kerana tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya
hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa
menjadi orang besar. Dan mereka justeru jadi lelucon dan target doa para mujahid
sejati, "Ya Allah, berilah dia petunjuk... Sungguh Engkau Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang..."
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya
luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan
cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu
lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.