I found this to be one of the most beautiful
description of marriage.
And accurate.
And I love it.
Because it answers all the silent questions I
have in mind, without knowing what the questions are.
*
Kita seringkali menganggap pernikahan itu
adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa
peradaban.
Ini bukan cuma tentang dua manusia yang saling
mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi
manusia.
Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah
adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah
kita akan produktif.
‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari
kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil,
bukan lalai.
Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan
hati. Manusia jadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara
komprehensif.
Al-Qur'an jelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai
sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.
Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari
manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat
terjawab.
Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab,
perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke
intelektualitas-spiritualitas.
Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang
perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun lahir setelah
melewati gelombang-gelombang samudera.
Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu
adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Cinta: dorongan untuk terus
memberi pada yang kita cintai.
Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan
emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis
sosial terkecil untuk membangun peradaban.
*
Katanya dari khutbah nikah pada pernikahan
anak dari ust Tate Qomaruddin, oleh Ust Anis Matta. Aku taksure maksudnya anak
Ust Tate ke anak Ust Anis yang kahwin, tapi takpelah. Walaupun bahasanya memang
ada gaya Ust Anis Matta.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan